24 March 2018

5 Contoh Artificial Intelligence yang Ditakuti Stephen Hawking

Stephen Hawking, fisikawan terkenal yang sukses lewat bukunya “A Brief History of Time” menghembuskan nafas terakhirnya hari ini. Di usia yang ke-76, Hawking sepertinya bisa lega karena tidak perlu menyaksikan manusia dan bumi hancur oleh Artificial Intelligence (AI).

Kenapa ? Perlu diketahui, Hawking merupakan salah satu tokoh di dunia sains dan teknologi yang selalu memperingatkan bahaya AI. Tokoh lain yang juga senada dengan Hawking adalah Ellon Musk, pendiri Tesla dan SpaceX.

AI atau Kecerdasan Buatan bukan barang baru. Di sekitar kita, AI hadir dalam wujud yang sederhana hingga kompleks. Contoh yang paling mudah ditemui adalah Google Assistant, Siri, Cortana dan Amazon Alexa. Keempatnya, meski masih dalam bentuk suara, sudah semakin canggih dalam berkomunikasi dengan pengguna.

Lalu, di mana saja AI bisa ditemui ? dan secanggih apa AI sehingga bisa ‘mengancam’ kehidupan manusia?


1. Chipset Smartphone (Hardware)

chipset

Chipset A11 Bionic memiliki Neural Engine yang berfungsi menjalankan algoritma pembelajaran yang canggih saat menjalankan beberapa fitur seperti Animoji dan FaceID seperti yang dikatakan TheVerge. Menurut Apple, Neural Engine sanggup menjalankan 600 miliar perintah dalam 1 detik. Pabrikan chipset lainnya seperti Huawei pun turut menyertakan chip khusus AI dalam prosesor mereka. Bedanya, Neural Processing Unit di Kirin 970 berfungsi untuk membantu dalam pengenalan obyek dalam gambar sehingga bisa lebih cepat 20 kali dibanding prosesor biasa.

Meski fungsi AI pada chipset masih tergolong sederhana, kemampuan pembelajaran yang cerdas membuat vendor tak perlu lagi menanamkan perintah tertentu karena seiring berjalannya waktu, fungsi yang dijalankan akan semakin akurat.

2. Voice Assistant (Software)

voice assitant

Seperti disinggung sebelumnya, asisten pribadi virtual seperti Google Assistant, Siri, Cortana dan Amazon Alexa merupakan contoh penggunaan AI. Bagi pengguna iPhone sejak iOS9, tentunya bisa merasakan bahwa Siri semakin lama semakin cerdas dan komunikatif ketika diajak berbicara. Bahkan Google Assistant (dulu Google Now) pun semakin cerdas. Contohnya ketika kamu bertanya akan suatu hal, kamu bisa melanjutkan pertanyaan tersebut tanpa perlu menjelaskan pertanyaan awal. Misalnya, Siapa Presiden Indonesia? Berapa usianya? Kapan dia lahir? Dalam percakapan tersebut, kamu tak perlu lagi menyebutkan ‘Presiden Indonesia’ karena Google Assistant memahami maksud dari pertanyaan tersebut.

3. Autopilot

autopilot

Tahukah kamu kalau Pilot seringkali memanfaatkan fitur ini ketika menerbangkan pesawat. Fungsi Autopilot ini tidaklah berjalan berdasarkan aturan tertentu, tapi justru menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Untuk penggunaan umum, sistem Autopilot ini juga mulai dipergunakan dalam mobil mewah. Beberapa pabrikan seperti Tesla dan BMW mulai menanamkan fitur ini di mobil mewah mereka.

Kecanggihan AI dalam sistem Autopilot mobil bahkan mulai diizinkan di beberapa negara seperti Jerman. Mobil yang dilengkapi dengan fitur ini bisa menentukan kecepatan, pergerakan roda, sampai mencari rute terbaik di kala macet. Kalau kamu sering memanfaatkan GPS saat berkendara, autopilot sudah langsung mengintegrasikan fungsi tersebut.

4. Ping An Technology (Music)

ping an technology

Komposer musik dunia sekelas Bach, Mozart ataupun di kelas pop seperti Mariah Carey mungkin akan kesal begitu tahu ada AI yang bisa merangkai nada menjadi lagu. Ping An Technology, perusahaan asal China ini bisa mengaransemen lagu berdasarkan genre musik dan penyanyi yang akan membawakan. Seperti dilansir dari SCMP.com, sistem ini mempelajari ratusan partitur piano untuk bisa menghasilkan aransemen sendiri. Hasilnya adalah lagu yang benar-benar baru atau orisinal namun dengan gaya yang disesuaikan dengan jenis musik.

5. Alpha Go/Zero

alpha go

Dalam film dokumenter “The Man vs The Machine”, diceritakan pertandingan catur antara Garry Kasparov melawan Deep Blue, komputer cerdas yang bisa bermain catur. Kekalahan Kasparov yang merpakan Grand Master kelas dunia tersebut membuka mata publik dunia pada tahun 1966 akan kecanggihan AI.

Beberapa tahun berselang, Google lewat DeepMind membuat sistem AlphaGo dan mengalahkan pemain dengan ranking Dan 9 di Go (catur ala China) dan semakin menegaskan supremasi AI dalam permainan papan catur. Versi selanjutnya, yakni AlphaZero bahkan menguasai tiga jenis permainan sekaligus, catur, Go, dan Shogi (catur ala Jepang).

Dari lima contoh yang disebutkan di atas, sebenarnya banyak lagi aplikasi AI dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika dipikirkan lebih jauh, ketakutan Stephen Hawking akan AI sepertinya bukan tanpa alasan.

Share this

Seorang Netter Yang Suka Ngadem Dibawah AC

0 Comment to "5 Contoh Artificial Intelligence yang Ditakuti Stephen Hawking"

Post a Comment